Hasil Penelitian
Penelitian ini berhasil memetakan secara komprehensif lanskap energi terbarukan di Indonesia Timur dan mengungkap bahwa energi secara umum telah tersedia untuk dibangkitkan, namun kesiapan sosial dan infrastruktur belum merata. Dengan pendekatan berbasis data hingga level kecamatan, hasil ini menjadi kompas kebijakan yang praktis untuk mengubah potensi menjadi listrik yang andal dan terjangkau.
Potret Potensi Energi:
Surya Dominan, Angin Bersifat Lokal
Analisis pemetaan sumber daya energi di Sulampua antara tahun 2021 hingga 2024 menunjukkan dua karakteristik utama.
-
Energi Surya
Potensi energi surya jauh lebih dominan dan tersebar luas, bahkan mengalami penguatan di banyak titik di Sulawesi dan Maluku. Sebaliknya, Papua cenderung mengalami pelemahan potensi surya pada periode yang sama.
-
Energi Angin
Potensi energi angin bersifat lebih lokal dan terkonsentrasi pada hotspot spesifik, seperti wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, dan sebagian Papua Selatan, dengan pola yang relatif stabil antar-tahun.
Di Mana Energi Terkonsentrasi?
Mengungkap Pola Spasial:
Di Mana Energi Terkonsentrasi?
Potensi energi tidak tersebar acak, melainkan membentuk pola pengelompokan yang jelas.
Analisis spasial mengonfirmasi adanya koridor-koridor energi yang menjadi dasar penentuan zona prioritas.
Autokorelasi Spasial Kuat
- Dengan nilai Global Moran's I di atas 0,47, terbukti bahwa wilayah berpotensi tinggi cenderung berdekatan satu sama lain.
- Kebijakan berbasis koridor atau zona akan jauh lebih efektif.
Dominasi Hotspot Surya
- Klaster potensi surya tinggi (hotspot) secara konsisten terbentuk dan bahkan meluas di kawasan utara, timur, tenggara, dan selatan Sulawesi, serta di Maluku dan Maluku Utara.
Kantong Potensi Angin
- Berbeda dengan surya, potensi angin tinggi hanya muncul di kantong-kantong kecil yang strategis, seperti pesisir terbuka atau pulau-pulau kecil di selatan Sulawesi, Maluku, dan Papua Selatan.
Potensi Ada, Prasyarat Belum Merata
Paradoks Kesiapan:
Potensi Ada, Prasyarat Belum Merata
Ada Kesenjangan Antara Sumber Daya dan Kesiapan Implementasi
45% Kecamatan di Sulampua
- Berada pada kategori potensi tinggi, sementara angka yang sama juga termasuk dalam kategori Kesiapan Rendah (lemah pada aspek sosiodemografi atau sarana prasarana).
Kebijakan Wilayah Irisan: High Potential + Low Readiness
19% Kecamatan di Sulampua
- Adalah segmen yang seharusnya menjadi target utama percepatan kebijakan karena sumber dayanya tersedia tetapi prasyaratnya belum memadai.
Enam Wajah Kesiapan Sulampua
Analisis Indeks Kesiapan Komposit (CRI) mengungkap enam karakteristik utama yang membentuk lanskap kesiapan energi di Sulampua.
Surya Dominan
Potensi surya melimpah dan meningkat di Sulawesi & Maluku, menjadi tulang punggung utama transisi energi.
Angin Lokal
Potensi angin bersifat hotspot spesifik di pesisir/pulau kecil, cocok untuk komponen hibrida pada mini-grid.
Infrastruktur Kunci
Kesiapan infrastruktur (jalan, konektivitas) berkorelasi positif kuat dengan potensi surya.
Tantangan SDM
Indeks sosiodemografi cenderung melemah, menandakan urgensi program penguatan kapasitas teknisi dan kelembagaan lokal.
Waspada Bencana
Terdapat klaster wilayah dengan potensi tinggi sekaligus risiko bencana tinggi yang memerlukan desain teknis tahan bencana.
Paradoks Papua
Kantong terbesar High Potential + Low Readiness berada di Papua, membutuhkan intervensi non-teknis (akses, SDM) terlebih dahulu.
Investasi Sekali, Hemat Jangka Panjang
Simulasi Dampak Ekonomi:
Investasi Sekali, Hemat Jangka Panjang
Implementasi teknologi PV surya terbukti memberikan dampak positif yang signifikan terhadap biaya listrik dan mutu layanan pada berbagai skala.
Skala Rumah Tangga
Pemasangan sistem PV 1 kWp dengan baterai mampu menekan pengeluaran tagihan listrik bulanan rumah tangga hingga 30-55%.
Skala Komunal
Sistem 3-5 kWp untuk fasilitas publik (sekolah, puskesmas) dapat memangkas biaya operasional listrik sebesar 35-60.
Skala Desa (Mini-Grid)
Sistem mini-grid dapat memangkas beban puncak hingga 15-25% dan menurunkan durasi padam rata-rata (SAIDI) hingga 20-35%.
Zona Aksi Strategis:
Peta Jalan Menuju Eksekusi
Dengan mengintegrasikan data potensi dan kondisi elektrifikasi, penelitian ini menghasilkan lima zona aksi strategis yang memberikan arah kebijakan berbeda untuk setiap tipe wilayah:
-
Hybrid Off-Grid Prioritas
Wilayah dengan potensi surya dan angin melimpah serta tingkat elektrifikasi rendah. Intervensi paling relevan adalah pembangunan mini/microgrid hybrid sebagai quick wins pemerataan.
-
Surya Off-Grid Prioritas
Wilayah dengan potensi surya sangat tinggi namun masih menghadapi defisit akses listrik. Strategi yang tepat adalah pengembangan PV mini-grid dengan skema pengelolaan berbasis komunitas.
-
Pembangkit Skala Besar
Wilayah dengan potensi tinggi namun elektrifikasi sudah relatif baik. Peluang kebijakan condong pada pengembangan pembangkit skala utilitas melalui skema PPA untuk menurunkan biaya listrik sistemik.
-
Perluasan Jaringan
Wilayah dengan defisit elektrifikasi namun potensi EBT intermiten rendah. Solusi yang lebih tepat adalah perluasan jaringan PLN atau pemanfaatan sumber energi non-intermiten seperti mikrohidro atau biomassa.
Tim Kami
I Nyoman Setiawan
Data Scientist
Direktorat Analisis dan Pengembangan Statistik
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia
Nawang Indah Cahyaningrum
Statistician
Direktorat Statistik Ketahanan Sosial
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia
Suryo Adi Rakhmawan
Data Analyst
Direktorat Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia